BLOG INI BERISI ARTIKEL UNTUK BERBAGI INFORMASI SEPUTAR PERENCANAAN DAN PENGANGGARAN...SEMOGA BERMANFAAT

Kamis, 05 Juli 2012

Uang Kuliah Tunggal

Membaca pemberitaaan di media massa, akhir-akhir ini banyak pro kontra tentang penerapan tarif tunggal. Beberapa waktu yang lalu mahasiswa Undip melakukan aksi demo untuk menentang penerapan tarif tunggal ini, padahal tujuan awal penerapan tarif tunggal adalah untuk meringankan beban orang tua calon mahasiswa agar tidak membayar dalam jumlah besar pada waktu awal masuk universitas, dan kebijakan ini juga sudah disetujui oleh 60 PTN seluruh Indonesia.

Saya mencoba merangkai dari berbagai berita untuk mengetahui lebih jauh tentang tarif tunggal ini dan plus minusnya bagi calon calon mahasiswa PTN.

Apa itu tarif tunggal ? Sesuai penjelasan dari rektor Undip Prof Sudharto tarif tunggal adalah penentuan satu tarif yang dibayar secara sama untuk tiap tiap semester, jumlah ini didapatkan dari pemjumlahkan semua komponen biaya perkuliahan selama 8 semester ( Sumbangan pengembangan Institusi, uang Gedung (jalur UM), orientasi, biaya KKN, SPP, Praktikum, Wisuda, dll) dari total jumlah tersebut dibagi 8 semeter.

Biaya kuliah di PTN jumlahnya beragam, saya contohkan biaya perkuliahan di Undip untuk jurusan Fakultas Ekonomi, tahun lalu, saya bandingkan untuk dua jalur UM dan SNMPTN karena memang keduanya biayanya berbeda jauh.

Jalur UM
Mahasiswa yang masuk jalur ini adalah 70% dari total penerimaan mahasiswa baru, tesnya sebelum diadakannya SNMPTN, total uang masuk berkisar diatas Rp 25 juta (lebih besar dibandingkan jalur SNMPTN) tetapi uang kuliah yang dibayarkan sama dengan mahasiswa yang masuk melalui jalur SNMPTN kita –kira RP 1 jutaan.
Jadi total biaya 8 semester adalah sebesar 33 juta (25 juta + (Rp 1 Juta x 8), sehingga rata-rata biaya kuliah persemester adalah Rp 4,125 juta ( 33 juta / 8)

Jalur SNMPTN (atau UMPTN)
Mahasiswa yang masuk jalur ini adalah 30% dari total penerimaan mahasiswa baru, tesnya dilakukan setelah TES UM, total uang masuk berkisar Rp 4 jutaan juta (jauh lebih kecil dibandingkan UM) dan uang kuliah yang dibayarkan sama dengan mahasiswa yang masuk melalui jalur UM kita –kira RP 1 jutaan.
Jadi total biaya 8 semester adalah sebesar 12 juta (4 juta + (Rp 1 Juta x 8), sehingga rata-rata biaya kuliah persemester adalah Rp 1,5 juta ( 12 juta / 8)

Tarif Tunggal
Sesuai keterangan rektor Undip tersebut, besaran tarif tunggal yang akan diterapkan adalah sebesar Rp 4 jutaan (contoh untuk fakultas ekonomi) dari jumlah tersebut berarti tarif tunggal tersebut diadopsi dari biaya-biaya yang ditanggung oleh jalur UM bukan SNMPTN.

Kelebihan
Seperti saya jelaskan diatas, dengan diterapkannya tarif tunggal tentunya akan sangat menguntungkan calon mahasiswa dari jalur UM, karena tidak perlu mengeluarkan biaya yang begitu besar pada saat awal masuk kuliah (25 jutaan) tapi bisa mengangsur pembayaran dalam 8 semester sebesar 4 jutaan. Hal ini tentunya akan sangat meringankan beban orang tua calon mahasiswa.

Kelemahan
Bagi calon mahasiswa yang masuk lewat jalur SNMPTN juga akan dikenakan tarif yang sama Rp 4 jutaan setiap bulannya, padahal sebelumnya hanya sekitar Rp 1,5 jutaan, dengan kenaikan yang sangat tinggi ini tentunya akan sangat memberatkan calon mahasiswa dari jalur SNMPTN, dan impian para calon mahasiswa yang kurang mampu untuk kuliah di PTN - PTN favorit juga harus dikubur, dan tinggal 2 alternatif yang ada pertama kerja dulu seadanya, sambil mengumpulkan uang untuk kuliah atau pilih PTS-PTS yang biaya kuliahnya terjangkau.

Beasiswa BIDIKMISI
Ada satu cara terakhir bagi calon mahasiswa kurang mampu yaitu dengan mendaftar beasiswa BIDIKMISI, biaya kuliah gratis sampai lulus dan diberikan juga biaya hidup sampai lulus, tapi kuotanya sangat terbatas untuk undip saja hanya 600 orang.
Semoga dari tulisan diatas bisa membantu adik-adik calon mahasiswa 2012/2013 dan para orang tua yang tahun ini mau memasukkan anaknya di jenjang pendidikan universitas, mohon maaf jika ada ketidak akuratan data, karena saya hanya mengamati dari pemberitaan dikoran, dan mohon koreksinya untuk data-data yang belum tepat.

Salam
Emil Dwi Martono - http://regional.kompasiana.com

Tidak ada komentar:

Posting Komentar